Selasa, 06 Januari 2009

BENARKAH TAN MALAKA ATHEIS?

TAN MALAKA PAHLAWAN JENIUS YANG TERLUPAKAN

  1. Biografi Tan Malaka

Dalam catatan sejarah kelahiran Tan Malaka masih terdapat perbedaan-perbedaan mengenai tanggal, tahun lahirnya namun dengan catatan ia masuk sekolah rendah tahun 1903, jadi diasumsikan Tan Malaka lahir pada tanggal 02 Juni 1897 di desa Pandan Gadang Sumatera Barat. Nama lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka sebuah nama khas Minang yang kental dengan tradisi islamnya. Beliau bisa dikategorikan sebagai salah satu dari tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia sejajar dengan Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh. Yamin, dan lain-lain. Perjuangannya yang revolusioner juga dibuktikannya dengan kemunculan karya-karyanya yang orisinil dan filosofis sehingga sangat berpengaruh terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sayangnya tak banyak penulis Indonesia dimasa kemerdekaan yang mengeksplorasi pemikirannya karena persepsi dan stigma yang negatif terhadapnya. Namun Tan Malaka tetaplah sosok yang tak pernah berhenti berfikir. Sumbangan pemikirannya akan menjadi refleksi bagi perenungan kita dimasa sekarang dan akan datang untuk terus melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia

Mulai tahun 1913 dan sampai enam tahun kemudian Beliau tercatat sebagai siswa Rijks Kweekschool di Haarlem, Nederland. Beliau terkenal sebagai murid yang cerdas, periang dan kreatif. Dari sinilah semangat revolusioner mulai terbangun. Di sana Beliau mempelajari pemikiran filsuf-filsuf dunia seperti Nietsche, Karl Marx, Engels. Bahkan Beliau sempat mendaftar sebagai calon tentara Jerman dalam era perang dunia I. Tan Malaka kembali ke Indonesia pada tahun 1919 dan mendaftarkan diri sebgai guru bagi kaum kuli dipekebuanan Senembah May di Tanjung Morawa. Beliau merasakan betapa kejamnya kaum Kapitalis mengeksploitasi pekerja kuli kontrak di sana. Hal ini menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat.

Akhirnya pada tahun 1921 pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai merambah kancah politik. Pada tanggal 24-25 Desember tahun 1921 diadakan kongres PKI pada saat itu Beliau diangkat menjadi ketua PKI. dan pergulatan politik nasional dimulai dari sini. Banyak terjadi insiden yang mengharuskan ia diasingkan beberapa kali dan ia kerap pergi keluar negeri ketika suasana menjadi panas tidak kondusif dalam iklim politik. Beliau termasuk tokoh yang tidak suka perpecahan dalam kelompok masyarakat politik. Dan beliau meninggal dunia pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Beliau gugur hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya ditengah-tengah perjuangan mempertahankan proklamasi. Menurut versi hasil penyelidikan Partai Murba, tanggal 19 Februari 1949 Tan Malaka dibunuh oleh tentara regular “Macan Kerah” dari Brigade”S” dibawah pimpinan Letkol Surachmad di desa Pethok, Kediri dan mayatnya dibuang ke sungai Brantas dan tidak pernah ditemukan

Sedangkan menurut Harry A Poeze sejarawan asal Belanda Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari tahun 1949 setelah tertangkap di Desa Selo Panggung di lereng gunung Wilis. beliau ditembak mati atas perintah Letnan Dua Sukotjo

  1. Pemikiran Tan Malaka

Tan Malaka merupakan pemikir dan penulis yang produktif, Beliau banyak menuangkan pokok pikiran atau ide beliau yang berbentuk filsafat, revolusi dan lain-lain dalam bentuk karya tulis.

Pemikiran beliau dibidang filsafat adalah Madilog (materialisme, Dialektika, Logika) yang beliau tuangkan dalam karya tulis yang berjudul Madilog pada tahun 1942

Tan Malaka dengan tegas membatasi daerah cakupan pembahasan madilog. Madilog tidak berlaku bagi promise-promise non-ilmiah misalnya daerah keyakinan atau kepercayaan. Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya dinyatakan oleh Tan Malaka berada diluar daerah pembahasan Madilog.

Oleh Tan Malaka, Madilog dimaksudkan untuk memerangi mistik timur yang sangat menghambat kemajuan dan kebudayaan dan juga sebagai tandingan bagi penulis-penulis barat yang terlalu meninggalkan logika.

Menurut Beliau, Hindu yang sangat kental mistiknya dan Imperialis lah yang manyebabkan Indonesia mundur dan berada dalam kungkungan penjajahan karena penjajah Belanda memafaatkan keadaan dimana bangsa Indonesia terjebak dengan pemikiran yang tidak dinamis

Demikianlah Madilog merupakan cara berfikir ilmiah yang merupakan sumbangan Tan Malaka dibidang filsafat umumnya dan ilmu pengetahuan khususnya. Madilog mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan secara kaji atau hafalan, bukan dogmatis dan doktriner. Madilog bisa dikatakan terobosan pemikiran baru mengenai cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia.

Didalam karya Madilog-nya, Tan malaka mengkritik logika mistik . Beliau berpendapat bahwa inti ajaran agama bukanlah pada kegaiban, yakni pengharapan surga dan neraka. Seharusnya dengan berkembangnya akal budi manusia, beragama tidak lagi didasarkan pada kenikmatan surga dan kesengsaraan neraka. Tan Malaka juga mengkritik penjungkirbalikan agama. Yakni, ajaran kegaiban yang pada awalnya sebagai iming-iming agar manusia mengikuti ajaran nabi, namun sekarang diletakkan sebagai yang utama. Dikarenakan kritikan Tan Malaka yang berani, seringkali ia dicap sebagai anti agama, kafir, murtad. Padahal beliau dilahirkan dari keluarga muslim yang taat. Bahkan saat ibunya sakit, beliau sempat membaca surat Yasin berulang-ulang. Beliau pun terlihat begitu mendalam dan sungguh-sungguh mempelajari dan menguasai Islam baik dari segi teologi, histories, dan syariat. Bahkan ia kontekstual dan implementatif dalam berpikir mengenai keislaman di Indonesia

Pemikiran Tan Malaka berbeda dengan pemikiran Karl Max dan Lenin – yang melahirkan paham komunis – walaupun kedua filsuf itu merupakan inspirator bagi beliau dalam pemikiran filsafat, karena Beliau menempatkan agama sebagai sesuatu hal yang tidak tergabung dengan pola pikir Madilog, akan tetapi secara tidak langsung Madilog dapat menerangi agama seperti obor yang menerangi dari luar dan tidak memasuki benda itu seluruhnya.

Dengan kata lain Tan Malaka menegaskan bahwa pola pikir Madilog bisa dipakai untuk atau alat memahami dan menganalisa doktrin agama. Jadi Beliau memakai filsafat Marxisme hanya sebatas metode bukan sebagai dogma (agama)

Bila dikaitkan dengan Islam, Madilog sangat sesuai sekali dengan Islam. Bagi Tan Malaka, Islam diakuinya sebagai penggunaan cara berfikir Madilog realistis dan dinamis. Dalam Islam keselarasan antara akal atau rasionalitas yang berpuncak pada science, selalu dijaga keseimbangannya dengan suara hati yang merupakan manifestasi dari iman. Dan juga tidak menimbulkan sikap atheisme karena akal yang melampaui iman. Al-qur'an selalu menekankan keseimbangan antara keduanya dan banyak nash-nash yang menunjukkan hal itu.

Kemudian hal terpenting dari Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Tan Malaka adalah Islam memberikan kemajuan bagi bangsa Eropa. Lewat Islamlah ilmu penegetahuan dapat dijembatani dari masa Yunani-Romawi kemasa sekarang, sebab Eropa pada abad pertengahan sebagai abad kegelapan, yaitu pada masa berlakunya zaman Skolastik Kristen dimana dominasi dogma mengalahkan akal. Baghdad menjadi pusat pengetahuan di dunia dan lewat sanalah transfer ilmu pengetahuan ke Eropa berlangsung besar-besaran. Zaman keemasan islam dipelopori oleh kaum Mu'tazilah sebagai kaum meterialisme-dialektis. Islam bagi Tan Malaka mempunyai doktrin ke-Tuhanan yang sesuai dengan hokum logika.

Pokok pikiran Tan Malaka yang lain yaitu tentang konsep kemerdekaan. Dalam brosurnya yang berjudul Politik pada tahun 1945 Tan Malaka menyatakan bahwa kemerdekaan itu adalah kedaulatan yang mengandung makna kekuasaan dan kemakmuran. Dalam buku tersebut ditulis percakapan antara beberapa tokoh yang mewakili paham-paham yang terpenting dalam revolusi, selanjutnya diuraikan bahwa kemerdekaan bukanlah kemauan tunggal tetapi kemauan terikat. Menurut Tan Malaka, kemerdekaan suatu negara amat erat kaitannya dengan negara-negara lain dengan adanya pengakauan atas terikatnya kemerdekaan negara-negara itu sama lainnya.

Selanjutnya tentang kemerdekaan seratus persen, Menurut Tan Malaka kemerdekaan itu adalah kemerdekaan yang mengandung batasan-batasan :

1. Daerah

2. Kedaulatan

3. Administrasi

4. Kekuasaan atas perekonomian

  1. Kesimpulan

Ternyata spekulasi yang berkembang selama ini bahwa beliau atheis (Komunis) tidaklah benar, karena filsafat beliau yang terinspirasi dari Karl Marx hanya diterapkan dalam konteks metode berfikir ilmiah bukanlah sebagai dogma. Bagi beliau, Madilog dipakai untuk untuk menciptakan pola pikir yang rasional dan memahami dogma agama dengan pemikiran yang rasional dan dinamis, dan ternyata islam sesuai dengan pola pikir Madilog yang Beliau kembangkan.

2 komentar:

  1. wah terima kasih telah memberi pencerahan berpikir, ,
    dan Tan Malakalah yang memiliki cara berfikir yang mendalam dan berdasar pada fakta dan logika

    BalasHapus